Jejak Dugaan Keracunan Program MBG di Sungai Rumbai: Dari Wadah Stainless hingga Produksi Mie 190 Kilogram
KATAHARIAN, - Sungai Rumbai - Kasus dugaan keracunan yang menimpa penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Sungai Rumbai, Kabupaten Dharmasraya, perlahan mulai terkuak. Berdasarkan penelusuran awak media, rangkaian kejadian ini diduga berkaitan dengan proses penyiapan hingga pendistribusian makanan yang disuplai kepada penerima manfaat program tersebut.
Ketua Pengurus BMG, Bambang, saat ditemui awak media mengungkapkan dugaan awal penyebab insiden tersebut. Menurut keterangannya, dugaan keracunan kemungkinan dipicu oleh penggunaan tampan stainless atau wadah berbahan logam yang digunakan dalam proses penyiapan makanan oleh pihak BMG. Dugaan ini muncul dari hasil pembicaraan internal terkait tahapan pengolahan dan distribusi makanan MBG.( Sabtu 07/02/2026 )
Untuk menelusuri rantai pasokan bahan makanan, awak media kemudian mendatangi Pasar Sungai Rumbai, yang disebut sebagai lokasi awal pembuatan mie yang dikonsumsi penerima MBG. Dari penelusuran tersebut diketahui bahwa mie diproduksi oleh seorang pedagang bernama Masri.
Saat ditemui di kediamannya di Perumahan Raihana, yang berada di belakang Pasar Sungai Rumbai, Masri menjelaskan bahwa dapur MBG memesan mie dalam jumlah besar, yakni sekitar 190 kilogram. Proses pembuatan mie tersebut dilakukan dalam satu hari, dimulai sejak waktu Zuhur hingga menjelang Magrib.
“Setelah selesai, mie langsung saya antar ke dapur MBG sekitar pukul 20.00 WIB. Lokasinya di samping Masjid Al Furqon Sungai Rumbai,” ujar Masri kepada awak media. Ia juga menegaskan bahwa usaha pembuatan mie yang dijalaninya telah memiliki surat izin usaha resmi.
Sementara itu, keterangan dari pihak pasien memperkuat dugaan adanya gangguan kesehatan setelah konsumsi makanan MBG. Salah seorang pasien rawat jalan di Klinik Umul Qura, berinisial YL, yang merupakan ibu dari balita penerima program MBG, menuturkan bahwa dirinya dulu mencicipi makanan tersebut setalah mencicip makanan tersebut beberapa jam setalah itu mulai mengalami gejala setelah mengonsumsi mie tersebut.
Menurut YL, Ibu balitanya mengalami diare, mual, serta menggigil. Kondisi tersebut membuatnya segera membawa Ibu Tersebut ke Klinik Umul Qura untuk mendapatkan penanganan medis.
Hingga berita ini diturunkan, Kepala SPPG serta bagian ahli gizi SPPG masih belum memberikan keterangan resmi dan memilih untuk tidak berkomentar. Pihak kepolisian juga menyatakan belum dapat memberikan tanggapan karena kasus ini masih dalam tahap penyelidikan.
Di tengah minimnya penjelasan resmi, muncul pertanyaan dari masyarakat terkait kelayakan pengelolaan Program MBG di Sungai Rumbai. Publik mempertanyakan alasan penggunaan mie kuning yang disuplai dari pasar tradisional Sungai Rumbai, serta mengapa bahan makanan tersebut tidak diproduksi secara mandiri dengan standar pengolahan yang lebih terkontrol.
Awak media akan terus mengikuti perkembangan kasus dugaan keracunan Program MBG ini dan menunggu klarifikasi resmi dari pihak-pihak terkait guna memastikan penyebab pasti kejadian serta mencegah peristiwa serupa terulang di kemudian hari.(Tim)
